Mengapa harus Mendaftarkan Google Scholar?
Bagi seorang dosen sekaligus peneliti maka akan memiliki berbagai judul jurnal atau artikel yang berkaitan dengan penelitiannya. Google Scholar dapat menjadi pilihan untuk menyimpan informasi terkait jurnal atau artikel penelitian yang dilakukan. Selain itu Google Scholar juga memberikan peringkat H-index bagi setiap profil pemilik akun. Jurnal yang dimasukkan juga dapat dijadikan rujukan bagi para peneliti lainnya dalam membuat penelitian, sehingga Google Scholar memberikan informasi jumlah sitasi yang pernah menggunakan judul tersebut.
Institusi yang mengikuti pemeringkatan Webometrics, Google Scholar menjadi bagian yang cukup penting karena menjadi salah satu indikator dalam salah satu penilaian.
Untuk pendaftaran Google Scholar sendiri sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Syaratnya hanya memiliki akun email gmail. Berikut ini cara untuk mendaftar akun Google Scholar sesuai indikator penilaian Webometrics:
- Masukkan alamat https://scholar.google.com/ atau https://scholar.google.co.id/ pada web browser. Lalu SIGN IN, seperti tampilan berikut:

- Untuk mendaftar Google Scholar baiknya menggunakan email resmi dari Institusi (GAFE Telkom University) agar memudahkan dalam melakukan searching data serta keseragaman data Google Scholar.

- Setelah berhasil SIGN IN lalu pilih menu My Profile, seperti tampilan berikut:
Pada menu My Profile akan menampilkan seperti berikut:

Isikan data sesuai dengan data pribadi, seperti:
– Nama, tuliskan nama lengkap tanpa menggunakan Gelar Pendidikan
– Afiliasi, gunakan nama branding institusi, seperti Telkom University untuk nama branding Universitas Telkom
– Email untuk verifikasi, gunakan email resmi institusi seperti email yang digunakan saat SIGN IN. Pastikan melakukan verifikasi melalui email yang dikirimkan dari Google Scholar, seperti berikut:
– Bidang minat, tuliskan bidang yang dimiliki atau dikuasai saat ini, seperti Informatika, Psikologi, dan sebagainya.
– Halaman Beranda (opsional), tuliskan alamat website atau blog pribadi yang dimiliki. - Setelah pengisian data pribadi selesai, selanjutnya memilih judul artikel. Semua judul artikel yang akan tampil adalah judul-judul yang berkaitan dengan nama pemilik akun. Pastikan bahwa judul artikel tersebut benar-benar milik pribadi, karena bisa saja yang ditampilkan adalah judul artikel yang memiliki nama yang sama dengan pemilik akun.
Selesai memilik artikel yang dimiliki, selanjutnya mengatur penggunaan akun Google Scholar, seperti berikut ini:

Setting Google Scholar
– Selalu pilih “Kirim update melalui email untuk ditinjau“, untuk mengatur artikel yang masuk sebelum diupdate ke profil Google Scholar. Hal ini untuk mencegah masukkan karya tulis milik orang lain ke profil Google Scholar.
– Visibilitas jadikan profil saya untuk umum, sebagai pengaturan agar profil akun dapat dilihat secara publik.- Setelah melakukan pengisian dan pengaturan data-data tersebut, maka Google Scholar telah berhasil dibuat. Untuk menambahkan artikel yang sebelumnya tidak tercantum pada langkah pertama, dapat menambahkan artikel secara manual dengan cara sebagai berikut:
Terdapat catatan tambahan terkait Profil Google Scholar sesuai indikator Webometrics, antara lain:
- Hanya boleh dibuat satu Profil akun dengan nama yang sama pada satu afiliasi institusi, maksudnya satu orang dosen hanya boleh memiliki satu akun Google Scholar saja.
- Tidak diperkenankan membuat akun non-individual pada Google Scholar. Contohnya membuat akun Google Scholar satu minat pembelajaran Informatika yang berisi gabungan artikel yang ditulis oleh penulis berbeda.
Demikian, cara untuk mendaftar akun Google Scholar. Artikel lainnya terkait pengelolaan Google Scholar dapat dibaca disini:
- Panduan Migrasi Akun Google Scholar
- Menonaktifkan Auto Update Artikel pada Akun Google Scholar
- Menambah dan Mengganti Nama Author pada Akun Google Scholar
- Mendaftar Google Scholar untuk Mahasiswa
- Menghapus Akun Google Scholar untuk Mahasiswa
- Menghapus Artikel Milik Orang Lain pada Akun Google Scholar
- Memperbaiki Artikel Duplicate dan Bertanda * pada Google Scholar
- Mendaftar Akun Google Scholar
- Menghapus Akun Google Scholar
- Panduan Kelola Afiliasi Google Scholar








![Apakah Anda merasa website atau blog Anda terasa lambat saat diakses? Salah satu penyebab utama kecepatan loading website yang rendah adalah ukuran file gambar yang terlalu besar. Banyak pemilik website menginginkan visual yang tajam dan jernih, namun sering kali melupakan dampak negatif dari file gambar berukuran megabyte (MB) terhadap performa situs. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa optimasi gambar itu penting dan bagaimana cara mengompres ukuran gambar tanpa mengurangi kualitasnya secara signifikan. Mengapa Ukuran Gambar Sangat Penting bagi Website? Bayangkan browser Anda adalah seorang pelanggan di sebuah kafe. Jika Anda memesan segelas air mineral (gambar ukuran kecil), pelayan akan membawakannya dengan cepat [01:08]. Namun, jika Anda memesan satu galon air (gambar ukuran besar), pelayan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengantarkannya ke meja Anda [01:27]. Analogi ini menjelaskan bahwa semakin besar ukuran file gambar, semakin berat beban browser untuk memuat halaman website Anda. Hal ini dapat menyebabkan pengunjung meninggalkan situs Anda karena tidak sabar menunggu. Tutorial Cara Kompres Gambar secara Online Anda tidak memerlukan software desain yang rumit untuk mengecilkan ukuran gambar. Anda bisa menggunakan berbagai tools gratis yang tersedia di internet. Berikut langkah-langkahnya: Cari Alat Kompresi di Google: Masukkan kata kunci seperti "image compress" di mesin pencari [01:47]. Anda akan menemukan banyak pilihan situs web yang bisa mengompres format JPG, PNG, hingga SVG. Upload Gambar: Pilih gambar yang ingin dikompres. Sebagai contoh, sebuah gambar berukuran 2,33 MB dapat dikompres secara signifikan [02:18]. Proses Kompresi: Setelah diunggah, alat tersebut akan bekerja otomatis. Dalam simulasi video, gambar 2 MB berhasil menyusut hingga 720 KB saja [02:51]. Cek Kualitas Gambar: Meskipun ukurannya berkurang drastis, kualitas visualnya sering kali tetap terjaga. Anda tetap bisa mendapatkan gambar yang jernih dan tajam saat di-zoom [03:24]. Lakukan Kompresi Berulang (Opsional): Jika ukuran masih dirasa besar, Anda bisa mencoba mengompresnya kembali. Namun, perlu diingat bahwa penurunan ukuran pada kompresi kedua biasanya tidak akan sedrastis yang pertama [04:48]. Berapa Ukuran Ideal Gambar untuk Website? Banyak ahli SEO dan Google menyarankan agar ukuran gambar berada di bawah 200 KB [05:46]. Namun, Anda tidak harus terpaku secara kaku pada angka tersebut. Tips Praktis: Selama hasil kompresi tidak membuat gambar terlihat pecah-pecah (pixelated), Anda bisa terus mengompresnya [06:03]. Jika sudah mencapai titik di mana kualitas mulai menurun drastis, berhentilah di ukuran tersebut. Jangan memaksakan ukuran kecil jika harus mengorbankan estetika website Anda [06:30]. Kesimpulan Optimasi gambar adalah langkah sederhana namun krusial dalam SEO teknis. Dengan mengecilkan ukuran file gambar, website Anda akan menjadi lebih ringan, akses pengunjung menjadi lebih cepat, dan peringkat Anda di mesin pencari berpotensi meningkat. Segera cek website Anda, unduh gambar-gambar yang terlalu besar, kompres, dan upload kembali untuk performa yang lebih maksimal! [06:57]](https://it.telkomuniversity.ac.id/wp-content/uploads/2025/12/Screenshot_52-255x255.png)